Agustus, Bersiap Dieng Culture Festival 2017

0
810
(Foto : indonesia.travel)

Bersiaplah menikmati salah satu suguhan festival budaya paling memikat yang hadir di Dataran Tinggi Dieng. Perhelatan Dieng Culture Festival akan berlangsung pada 4-6 Agustus 2017 di Kompleks Candi Arjuna.

Beberapa acara utama akan hadir seperti Kongkow Budaya, Ritual Cukur Rambut Gimbal, Jazz Atas Awan, Festival Gaping Gunung, Sendra Tari Rembut Gembel, Akustik Atas Awan, Parade Kesenian, Kirab Budaya, Purwageng, serta expo UKM.

DI sela acara saat sore hari sempatkan menikmati Matahari terbenam di Bukit Skuter yang dapat ditempuh hanya 15 menit dari Desa Dieng Kulon. Usai menikmati Matahari terbenam, Anda diajak bersiap menyaksikan pertunjukan Jazzatasawan yang digelar di panggung utama, timur Kompleks Candi Arjuna.

Pertunjukan musik di tengah suhu 2,5 derajat celcius itu akan menampilkan sejumlah musisi jazz dari pelosok Tanah Air.

DCF merupakan pesta budaya terbesar di Dieng. Festival akan dimulai dengan jalan sehat sembari menikmati hangatnya purwaceng, minuman herbal khas Dieng. Kamu juga dapat menikmati serangkaian atraksi seni budaya, mulai dari pertunjukkan wayang kulit di tengah hawa dingin, pameran kerajinan khas Dieng, festival film indie pelajar, pesta balon dan lampion, serta meriahnya pagelaran ‘jazz di atas awan’.

Selain itu, saksikan upacara yang paling ditunggu-tunggu wisatawan yakni ruwat rambut gimbal. Di Dieng, beberapa anak memiliki rambut gimbal asli yang dilatarbelakangi keyakinan dan mitos warga setempat.

Pada puncak acara DFC, rambut anak-anak yang gimbal secara alami tersebut akan dipotong kemudian diupacarakan untuk dilarung ke sungai. Rambut gimbal tersebut haruslah dipotong, konon katanya bila rambut gimbal dibiarkan, masyakat Dieng percaya anak itu beserta keluarganya akan terancam musibah.

Anak-anak tersebut memiliki rambut normal saat lahir namun suatu waktu mereka tiba-tiba akan mengalami kejadian-kejadian tertentu yang diyakini sebagai awal mula tumbuhnya rambut gimbal, yaitu suhu badan meninggi diikuti dengan tumbuhnya bintik kecil di kepala.

Lama kelamaan, bintik itu membesar dan rambutnya akan menggimbal, saat itu pula orang tua sudah tau bahwa anaknya merupakan keturunan Tumenggung Kolo Dete, pertapa berambut gimbal dari Majapahit.

Sebelum upacara pemotongan rambut akan dilakukan ritual doa di beberapa tempat agar upacara dapat berjalan lancar. Tempat-tempat tersebut adalah Candi Dwarawati, komplek Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatot Kaca, Telaga Balai Kambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, komplek Pertapaan Mandalasari (gua di Telaga Warna), Kali Pepek, dan tempat pemakaman Dieng.

Malam hari sebelum prosesi akan dilakukan Upacara Jamasan Pusaka, yaitu pencucian pusaka yang dibawa saat kirab anak-anak rambut gimbal. Keesokan harinya baru dilakukan kirab menuju tempat pencukuran, si anak diarak dari rumah sesepuh pemangku adat dan berhenti di dekat Sendang Maerokoco atau Sendang Sedayu, tempat penyucian rambut.

Setelah itu, barulah ritual pemotongan rambut dilaksanakan. Potongan rambut gimbal tersebut kemudian dihanyutkan ke Telaga Warna yang menandakan bahwa rambut tersebut dikembalikan ke pemiliknya, yaitu Ratu Laut Kidul.

Acara ini diperkirakan mampu menarik lebih dari 15 ribu pengunjung sehingga wisatawan disarankan memesan penginapan dari jauh hari sebelumnya. Jika kamu ingin tinggal di desa sekitar Dieng, ada banyak losmen kecil dan hotel di sini.

Kamu juga dapat tinggal di rumah penduduk yang dapat disewa dengan harga relatif murah. Terdapat beberapa homestay di Dieng Kulon maupun Dieng Wetan.

Dataran Tinggi Dieng sendiri terletak di dua kabupaten sekaligus. Sebagian bernaung di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan sebagian lagi berada di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Dataran tinggi Dieng bagaikan ‘negeri di atas awan’ karena terhampar di ketinggian 2.000 m di atas permukaan laut membuat udaranya sejuk dan menyegarkan serta ditutupi kabut tebal. Karena keindahannya yang menakjubkan inilah diyakini bahwa Dieng dipilih sebagai kawasan sakral dan tempat bersemayamnya Dewa Dewi.

Sumber : Kementerian Pariwisata