Cerita dari Pulau Pramuka di Masa Lalu

0
373
(Foto : Bello.id/Nisa)

Bello.id – Tidak seperti pulau-pulau lain di bagian selatan Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka tidak meninggalkan sejarah peninggalan kependudukan Belanda di Indonesia.

Konon, pendahulu-pendahulu kita punya kekuatan “halimun”, semacam ilmu sakti agar para penjajah tidak bisa melihat keberadaan pulau ini.

Jadilah dahulu Pulau Pramuka hanya berupa hutan rimbun tanpa penduduk. Oia, dulu pulau ini belum bernama Pulau Pramuka lho, tapi Pulau Elang.

Namun, sejak tahun 1980-an, karena Pulau Elang sering dipakai untuk kegiatan kepramukaan, maka pemerintah mengubah namanya menjadi Pulau Pramuka.

Dulunya, sebagian besar pendatang di Pulau Pramuka adalah masyarakat yang tinggal di Pulau Panggang. Pulau Panggang berada sangat dekat dengan Pulau Pramuka. Jika naik kapal nelayan, mungkin hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit.

Sejak zaman penjajahan Jepang, sampai sekarang, Pulau Panggang telah menjadi pulau berpenghuni yang sangat ramai. Karena itu, sekitar tahun 1975 pemerintah telah mengisyaratkan transmigrasi warga dari Pulau Panggang ke Pulau Pramuka.

(Foto : Bello.id/Nisa)

Namun, ada mitos yang berkembang di antara masyarakat ketika itu, yaitu letak geografis Pulau Pramuka yang melintang (horizontal), tidak memanjang seperti pulau-pulau lainnya, dipercaya mendatangkan rezeki yang sedikit. Akibatnya, banyak penduduk Pulau Panggang yang enggan hijrah ke Pulau Pramuka ketika itu.

Akan tetapi, Pak Abdurrahman atau yang terkenal dengan nama Pak Amang, menjadi orang pertama yang membantah mitos tersebut. Pada tahun 1963, Pak Amang dan keluarganya pindah ke dari Pulau Panggang ke Pulau Pramuka.

Saat itu, hanya rumah beliaulah yang ada di antara rimbunan pohon-pohon lain. Selain mencari ikan, Pak Amang juga mulai menanam rumput laut, dan pada tahun 1971 beliau mulai membawa bibit sukun dari Pulau Bira.

Hingga saat ini rumput laut dan sukun telah menjadi panganan sangat laris yang dan dijadikan buah tangan oleh wisatawan yang datang. Pak Amang sekarang bekerja di keramba, sebuah pusat pembudidayaan ikan tak jauh dari Pulau Pramuka.

Ada peninggalan dari penjajahan Jepang yang saat ini masih digunakan nelayan untuk menangkap ikan, yaitu jaring ikan kuning. Alat tersebut diakui sebagai peninggalan zaman penjajahan Jepang, pada tahun 1942 ketika Jepang meletakkan kaki di Kepulauan Seribu.

Saat itu para nelayan menjadi Keiho (pekerja) Jepang dan diberikan pelatihan untuk menangkap ikan. Keahlian menangkap ikan tersebutlah yang menjadi mata pencaharian andalan masyarakat Pulau Pramuka ini sampai sekarang.

Bahkan ketika Indonesia mengalami krisis moneter pada pertengahan tahun 1997 lalu, masyarakat pulau ini tidak merasakan dampaknya, ekonomi mereka yang bergantung dari hasil laut masih stabil.

Sampai pada tahun 2000 ke atas, nelayan di Pulau Pramuka mulai memutar otak untuk mencari ikan. Penurunan hasil laut mulai dirasakan karena oknum-oknum tidak bertanggung jawab kerap kali menangkap ikan dengan potasium, semacam zat perusak untuk membuat ikan mabuk.

Zat berbahaya tersebut sangat merusak karang, dan karena tempat berlindungnya rusak, ikan-ikan pun jumlahnya mulai berkurang. Ditambah lagi dengan adanya limbah dari 11 muara, sehingga nelayan Pulau Pramuka tidak bisa mencari laut di sekitar pulau. Mereka terpaksa berlayar sampai ke Karawang, Belitung, bahkan Lampung.

Saat ini, Pulau Pramuka telah menjadi kawasan wisata bahari dan wilayah konservasi yang cukup ramai didatangi wisatawan. Dengan demikian, mitos-mitos yang pernah beredar zaman dahulu telah benar-benar terbantahkan.

LEAVE A REPLY