10 Destinasi di Jogja yang Bisa Kamu Kunjungi Saat Libur Lebaran

0
1522
Suasana malam hari di Yogyakarta (Foto : indonesia.travel)

Bello.id – Jogja memiliki beragam atraksi budaya yang melimpah, ditambah dengan alam yang memikat, mulai dari gunung, gua, hingga rentetan pantai di selatan Pulau Jawa.

Maka tak heran sejak dulu, Jogja sudah dikenal sebagai kota wisata, kota budaya, dan kota pendidikan.

Sebenarnya, yang masuk kategori kultural ini, terdiri atas warisan budaya, kuliner, mode, kesenian. Berikut ini, tempat yang keren di Jogja.

1. Candi Roro Jonggrang Prambanan

Legenda Candi Roro Jonggrang masih erat dengan Candi Prambanan ini. Seribu candi yang kurang satu, Roro Jonggrang sendiri sehingga lengkap 1000, yang berubah menjadi patung. Namanya juga Legenda, ceritanya pasti dramatis.

Tapi, berkunjung ke Candi Hindu terbesar dan tertinggi di dunia ini menjadi menu wajib. Candi Prambanan dihiasi relief yang diukir mengelilingi candi dan menceritakan kisah Ramayana dan Krishnayana.

Candi Prambanan berlokasi sektiar 17 km dari pusat kota Yogyakarta. Kalau kamu tidak membawa kendaraan pribadi, untuk mencapai Candi Prambanan dengan bus dan turun di halte Prambanan, sangat mudah aksesnya.

2. Jalan Malioboro

Malioboro adalah nama sebuah jalan yang legendaris di Jogja. Jalan Malioboro sangat terkenal dan sudah menjadi salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi dan difoto untuk diunggah (upload) di media sosial.

Acapkali untuk sekedar berfoto di penanda Jalan Malioboro itu harus antri. Nama Jalan Malioboro ini berasal dari bahasa Sansekerta dan mempunyai arti karangan bunga.

Jalan Malioboro menawarkan pengalaman wisata belanja dan wisata kuliner yang tak ada habisnya.

Pada siang hari, di sepanjang Jalan Malioboro Anda akan menemukan banyak sekali penjual pakaian, tas, sandal, gantungan kunci, kerajinan tangan, batik, aksesoris, dan barang-barang unik lainnya yang dapat dibeli dengan harga murah.

Sementara pada malam hari, kamu akan menemukan banyak sekali penjual makanan lesehan khas Jogja di sepanjang Jalan Malioboro.

Hal yang paling asyik adalah ada beberapa orang yang berpakaian unik, misalnya berpakaian seperti prajurit, pocong, zombie, dan lain-lain. Kita dapat berfoto dengan mereka dengan biaya sukarela.

3. Keraton Jogja

Keraton Jogja adalah satu di antara tempat wisata di Jogja yang ramai dikunjungi.

Keraton Yogyakarta merupakan sebuah bangunan bersejarah kesultanan Jogja yang ditinggali oleh Sultan Hamengkubuwono dan keluarganya.

Selain dapat menikmati arsitektur kesultanan kuno, kamu juga dapat berkunjung ke museum yang mempunyai koleksi barang-barang kesultanan Yogyakarta yang sebagian merupakan hadiah dari raja Eropa.

Apabila kamu ingin datang mengunjungi tempat wisata ini, datanglah agak pagi karena Keraton Yogyakarta buka dari pukul 8 pagi sampai dengan pukul 2 siang saja.

Di dekat pintu masuk keraton itu, di seberang jalan, cukup jalan kaki, kamu bisa menemukan tempat menyimpan kereta-kereta keraton. Kendaraan mewah di beberapa abad yang lalu, yang masih terawat rapi.

4. Candi Borobudur

Candi Borobudur memang berada di Magelang, tapi akses dari Jogja menuju ke Borobudur hanya 1,5-2 jam saja ke arah Muntilan.

Candi Borobudur, candi Budha terbesar di dunia. Berlokasi sekitar 100 km dari Semarang, 86 km dari Solo, dan 40 km dari Jogja.

Candi ini adalah maha karya kelas dunia yang tidak ada duanya. Candi Borobudur merupakan candi yang mempunyai relief dan patung Budha terbanyak di dunia.

Candi ini didirikan para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan bangsa Syailendra.

Borobudur adalah candi atau kuil Budha terbesar di dunia, sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.

5. Istana Air Taman Sari

Istana Air Taman Sari adalah sebuah tempat rekreasi dan meditasi bagi keluarga kerajaan Yogyakarta pada zaman dahulu.

Selain itu, Istana Air Taman Sari juga berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap musuh yang menyerang. Saat ini, Istana Air Taman Sari adalah satu di antara tempat wisata di Jogjakarta yang terkenal karena keunikannya.

Udara di sekitar Istana Air Taman Sari sejuk karena terdapat banyak kolam buatan disertai dengan kebun bunga yang berbau harum.

Taman sari itu situs bekas taman atau kebun istana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dapat dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor sebagai kebun Istana Bogor.

6. Candi Ratu Boko

Situs Ratu Baka atau Candi Boko adalah situs purbakala yang merupakan kompleks sisa bangunan yang berada kira-kira 3 km di sebelah selatan dari kompleks Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Jogjakarta atau 50 km barat daya Kota Solo.

Situs Ratu Bako terletak di sebuah bukit pada ketinggian 196 meter dari permukaan laut. Luas keseluruhan kompleks sekitar 25 ha. Dari atas bukit ini bisa menyaksikan Gunung Merapi dengan sangat jelas, juga bisa melihat Kota Jogja dari kejauhan.

7. Candi Ijo

Candi Ijo adalah kompleks percandian bercorak Hindu, berada 4 kilometer arah tenggara dari Candi Ratu Boko atau kita-kira 18 kilometer di sebelah Timur kota Jogjakarta.

Candi ini diperkirakan dibangun antara kurun abad ke-10 sampai dengan ke-11 Masehi pada saat zaman Kerajaan Medang periode Mataram.

Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Jogja.

Candi ini berada lereng barat sebuah bukit yang masih merupakan bagian perbukitan Batur Agung, kira-kira sekitar 4 kilometer arah tenggara Candi Ratu Boko. Posisinya berada pada lereng bukit dengan ketinggian rata-rata 425 meter di atas permukaan laut.

Candi ini dinamakan “Ijo” karena berada di atas bukit yang disebut Gumuk Ijo. Kompleks percandian membuka ke arah barat dengan panorama indah, berupa persawahan dan bentang alam, seperti Bandara Adisucipto dan pantai Parangtritis.

8. Candi Sari

Candi Sari juga disebut Candi Bendah adalah candi Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Sambi Sari, Candi Kalasan dan Candi Prambanan, yaitu di bagian sebelah timur laut dari kota Jogja, dan tidak begitu jauh dari Bandara Adisucipto.

Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-8 dan ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno dengan bentuk yang sangat indah. Pada bagian atas candi ini terdapat 9 buah stupa seperti yang nampak pada stupa di Candi Borobudur, dan tersusun dalam 3 deretan sejajar.

Bentuk bangunan candi serta ukiran relief yang ada pada dinding candi sangat mirip dengan relief di Candi Plaosan.

Beberapa ruangan bertingkat dua berada persis di bawah masing-masing stupa, dan diperkirakan dipakai untuk tempat meditasi bagi para pendeta Budha (bhiksu) pada zaman dahulunya.

Candi Sari pada masa lampau merupakan suatu Vihara Budha, dan dipakai sebagai tempat belajar dan berguru bagi para bhiksu.

Candi Sari ditemukan kembali pada awal abad ke-20 dalam keadaan rusak berat. Pemugaran pertama dilaksanakan antara tahun 1929 sampai 1930 yang dipimpin oleh A.J. Bernet Kempers seorang ahli arkeologi dari Belanda.

Pada saat pemugaran pertama, belum berhasil mengembalikan keutuhan bangunan aslinya. Hal ini disebabkan oleh banyaknya bagian candi yang hilang.

Selain itu, ketika kali pertama ditemukan, terdapat bagian-bagian bangunan yang sudah rusak terutama bagian yang bukan terbuat dari batu.

Candi Sari yang sekarang diperkirakan dahulu memiliki pagar batu yang mengelilingi candi. Pintu masuk candi dijaga oleh sepasang Arca Dwarapala yang memegang gada dan ular seperti yang terdapat di depan Candi Plaosan.

9. Museum Benteng Vredeburg

Museum Benteng Vredeburg adalah benteng di depan Gedung Agung dan Kraton Kesultanan Jogjakarta. Sekarang, benteng ini menjadi sebuah museum. Di sejumlah bangunan di dalam benteng ini terdapat diorama mengenai sejarah Indonesia.

Benteng ini dibangun sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan residen Belanda kala itu, dengan dikelilingi oleh sebuah parit (jagang) yang sebagian bekas-bekasnya telah direkonstruksi dan dapat dilihat hingga sekarang. Benteng berbentuk persegi ini mempunyai menara pantau (bastion) di keempat sudutnya.

Benteng Vredeburg berdiri terkait erat dengan lahirnya Kasultanan Jogjakarta. Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 yang berhasil menyelesaikan perseteruan antara Susuhunan Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I kelak) adalah merupakan hasil politik Belanda yang selalu ingin ikut campur urusan dalam negeri raja-raja Jawa waktu itu.

10. Masangin Alun Alun Kidul

Alun alun Kidul tak pernah sepi dari kunjungan para wisatawan domestik dan mancanegara, terutama di malam hari. Di lokasi Masangin ada permainan yang sangat menyenangkan buat seluruh keluarga.

Menutup mata, lalu berjalan di antara 2 beringin di Alun Alun Kidul itu. Nah, kalau sukses, Anda bisa mempertimbangkan untuk memikirkan sesuatu keinginan.

Masangin dari waktu ke waktu bertransformasi jadi seperti sekarang ini. Awal muasalnya, Alun alun Kidul merupakan sebuah tempat para abdi dalem, prajurit beserta anak buahnya melaksanakan berbagai acara seperti Perayaan Penyambutan Lailatul Qadar pada bulan puasa bagi kaum Muslim.

Di tempat ini pula dilakukan ritual topo bisu dan berkeliling benteng dilakukan pada 1 Sura atau ulang tahun berdirinya Keraton Jogja. Warga Jogja pun tumplek bergabung merayakan tradisi keraton yang sarat makna ini.

Nah, masangin merupakan salah satu bagian dari acara tersebut yang dipercaya sebagai sarana “ngalap berkah” atau simbol permohonan pada Tuhan Yang Maha Kuasa agar melingkupi Jogja dengan keamanan dan kenyamanan.

Masangin dianggap masyarakat Jogja sebagai tolak bala agar kekuatan musuh yang dapat menggerogoti kekuasaan Keraton Jogja bisa lumpuh.

Sumber : indonesia.travel