Mengenal Sasando, Alat Musik Petik dari Pulau Rote

0
3357
Pemain alat musik sasando (Foto : indonesia.travel)

Bello.id – Gitar, harpa, biola punya suara khasnya masing-masing. Namun, tahukah kamu kalau ada alat musik asli Indonesia yang bisa menghasilkan tiga suara tersebut dalam 1 alat musik? Ya, alat musik itu adalah Sasando.

Sasando merupakan alat musik tradisional khas Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Di pulau ini, sasando sering juga disebut sasandu, yang berarti alat yang bergetar atau berbunyi.

Alat musik petik ini mempunyai suara yang unik yang dihasilkan dari cara memainkan dan bentuk yang tidak dimiliki oleh alat musik lainnya.

Sasando berbentuk seperti tabung bulat panjang yang “dibungkus” oleh  kelopak daun lontar yang dibentuk setengah melingkar seperti kipas yang berlekuk-lekuk. Sangat unik dan indah.

Di tabung yang terbuat dari bambu itu terdapat senar-senar atau dawai yang direntangkan dari atas hingga ke bawah mengelilingi permukaan tabung, sehingga untuk memetik senar-senar ini kita harus menggunakan dua tangan.

Sasando dimainkan dari arah berlawanan, kiri ke kanan dan kanan ke kiri. Tangan kiri berfungsi memainkan melodi dan bas, sementara tangan kanan bertugas memainkan accord.

Sasando (Foto : indonesia.travel)
Sasando (Foto : indonesia.travel)

Daun lontar berfungsi sebagai media penghasil resonansi atau penggema suara. Susunan notasinya juga bukan beraturan seperti alat musik pada umumnya, melainkan memiliki notasi yang tidak beraturan dan tidak terlihat karena terbungkus daun lontar.

Keunikan bentuk dan cara  memainkan ini membuat sasando menghasilkan suara yang unik yang mirip dengan suara kombinasi dari tiga alat musik, yaitu harpa, piano, dan gitar. Seolah-olah tiga alat musik menyatu dalam satu ritme dan melodi. Syahdu dan membuat kita terhanyut akan setiap petikan suaranya.

Sasando memiliki beberapa jenis yaitu sasando gong dan sasando biola. Sasando gong lebih dikenal di Pulau Rote, memiliki nada pentatonik, biasanya dimainkan dengan irama gong dan dinyanyikan dengan syair khas Pulau Rote. Sasando jenis ini berdawai 7 buah atau 7 nada kemudian kini berkembang menjadi 11 dawai.

Adapun sasando biola merupakan sasando yang telah berkembang dengan nada diatonis. Bentuk sasando biola sekilas mirip sasando gong namun diameter bambunya lebih besar. Sasando jenis ini diperkirakan mulai berkembang pada abad ke-18. Disebut sasando biola karena menyerupai nada biola dengan 30 nada kemudian berkembang menjadi 32 dan 36 dawai.

Selain kedua jenis sasando di atas, ada pula sasando elektrik (listrik) yang umumnya memiliki 30 dawai. Jenis sasando ini merupakan pengembangan dari sasando biola yang diberi sentuhan teknologi. Sasando ini diciptakan oleh Arnoldus Eden, seorang musisi sasando.

Awal mula diciptakan jenis sasando ini karena ditemukan beberapa kelemahan pada sasando tradisional, yakni tidak dapat dinikmati secara maksimal oleh pendengar karena saat memainkannya jemari terhalang daun lontar yang melingkari sasando. Selain itu, suara merdunya hanya dapat didengar beberapa orang yang berada di sekitar pemain sasando saja.

Berbeda dari sasando tradisional yang sebagian besar menggunakan bahan alami, sasando elektrik tidak menggunakan wadah dari daun lontar. Tidak seperti sasando tradisional yang hanya bisa didengar oleh orang-orang di sekeliling pemain, bunyi sasando elektrik dapat langsung diperbesar lewat alat pengeras suara seperti sound sistem dan speaker.

Di Rote dan sekitarnya, biasanya alat musik sasando dimainkan untuk hiburan, pengiring tarian, dan upacara adat seperti perayaan kelahiran seorang bayi atau pada upacara pernikahan dan pemakaman.

Sayang, alat musik luar biasa ini kini nyaris punah di tanah kelahirannya sendiri. Di Rote, orang yang bisa menguasai alat musik ini bisa dihitung dalam hitungan jari dan itupun kebanyakan adalah orang yang sudah lanjut usia.

Sasando menjadi asing bagi warga masyarakat Rote, karena minat generasi muda Rote yang sangat kurang dalam mempelajari atau memainkan alat musik ini.

Para generasi tua pun juga tidak meninggalkan warisan berupa buku atau sekolah yang bisa memandu generasi muda menjadi penerus mereka, sehingga alunan petikan sasando pun semakin jarang terdengar di Rote.

Baca Juga

Bandara di Pulau Rote Dipercantik