Merasakan Kehidupan Masyarakat Perbatasan di Nunukan

0
3867
(Foto : pejuangkaltara.com)

Bello.id – Kita semua tahu kalau Indonesia itu luas banget dan berbatasan dengan banyak negara. Nah, pernah nggak sih kamu sebagai orang Indonesia kepikiran gimana rasanya tinggal di wilayah-wilayah yang langsung berbatasan dengan negara tetangga?

Salah satu wilayah perbatasan yang perlu kamu ketahui adalah Nunukan. Nunukan adalah nama sebuah pulau yang berada di ujung utara Pulau Kalimantan yang berbatasan langsung dengan daerah Sabah dan Serawak, Malaysia.

Nunukan juga nama dari kabupaten, kota, serta kecamatan yang ada di pulau ini. Posisinya yang berbatasan langsung dengan Malaysia membuat kehidupan  masyarakatnya menjadi sangat khas.

Hubungan Spesial dengan Malaysia

Kalau kita berkunjung ke Nunukan, kita akan menemui banyaknya bahan pokok dan makanan ringan yang berasal dari Malaysia.

Mata uang ringgit di Nunukan juga menjadi alat tukar pembayaran yang biasa dipakai oleh masyarakat selain rupiah.

Menurut masyarakat di sana, hal ini wajar karena dari segi biaya dan waktu akan lebih efisien jika mereka mengimpor barang dari Malaysia, dibandingkan mendatangkan barang-barang dari wilayah Indonesia.

Bayangkan, kalau masyarakat harus membeli dari wilayah Indonesia, berapa lama waktu yang harus mereka tunggu sampai barang datang karena harus melalui jalur distribusi yang panjang dan jauh dari pusat kota.

Selain itu, harga barang juga menjadi lebih mahal karena harus melalui proses angkut pindah barang yang panjang.

Bandingkan dengan biaya dan waktu yang harus mereka keluarkan untuk mendatangkan produk-produk Malaysia yang bisa didapatkan dari kota Tawau, Malaysia yang berjarak hanya sekitar satu jam perjalanan laut dari Nunukan. Tentu akan lebih efisien kan?

Kesederhanaan dan Keharmonisan Bermasyarakat

Selain kehidupan masyarakatnya yang masih sangat bergantung dengan Malaysia, masyarakat Nunukan hidup sangat sederhana.

Tidak banyak yang bisa dilihat di Pulau Nunukan, kebanyakan bangunan yang ada hanya berupa toko-toko kecil sepi dan rumah-rumah penduduk yang berupa rumah panggung.

Nunukan juga merupakan kota dan kabupaten yang sepi karena hanya berpenduduk sekitar sepuluh jiwa per kilometer persegi dengan persebaran penduduk yang tidak merata dan terkonsentrasi di beberapa titik tertentu saja.

Jumlah suku atau etnis yang mendiami Nunukan sangat beragam, mulai dari suku Tidung, Dayak, Banjar, dan Bugis hidup berdampingan di pulau ini.

Dengan penduduk asli Suku Tidung dan Suku Dayak, mayoritas penduduknya kini ialah Suku Bugis dan Jawa. Keberagaman suku ini seiring dengan keberagaman agama yang dianut, dengan mayoritas agama Islam dan Protestan.

Kehidupan umat beragama di Nunukan juga berjalan relatif harmonis. Hampir tidak ada konflik yang terjadi di masyarakat yang berdasarkan agama di kabupaten Nunukan.

Di daerah perkotaannya yang berpusat di sekitar pasar, banyak dihuni oleh para pendatang maupun penduduk asli seperti suku Melayu Tidung yang beragama Islam.

Sementara di daerah pinggiran, mayoritas ditempati oleh penduduk asli, yaitu suku Dayak yang beragama Kristen dan Katolik.

Kesenjangan Pembangunan dan Ekonomi

Sebagai sebuah pulau terluar yang jauh dari jangkauan pemerintah pusat, Nunukan juga mengalami permasalahan klise wilayah perbatasan pada umumnya, yaitu kurangnya pembangunan yang menyebabkan tidak berkembangnya kehidupan ekonomi.

Contoh nyatanya adalah kehidupan nelayan. Dengan kondisi pulau yang dikelilingi oleh laut, kehidupan masyarakatnya biasa diisi dengan kegiatan melaut. Nelayan yang ada hidup dengan sangat sederhana karena kurangnya akses pendidikan dan ekonomi yang ada di pulau Nunukan.

Fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, jalan, serta listrik juga masih belum banyak dibangun di pulau. Namun, seiring perkembangan arah pembangunan pemerintah yang semakin berorientasi ke pulau-pulau terluar, fasilitas-fasilitas umum terutama listrik dan jalan kini semakin baik dari hari ke hari.

Baca Juga

Kota Singkawang, Cerminan Akulturasi 3 Etnis di Indonesia